Juguran Blogger: Ke Museum Dermaji dan Trekking di Curug Wanasuta

MUSEUM DESA DERMAJI
Habis sarapan pagi, kami berkunjung ke Museum Desa Dermaji. Museumnya ada di Balai Desa Dermaji lantai dua.

Naik ke lantai dua balai desa Dermaji

Lantai dua. Pintu yg di kejauhan sana itu perpustakaan.
Di dalam museum yg berukuran kira-kira 3×8 meter tersimpan beberapa benda bersejarah desa Dermaji. Seperti Bokor Kinang, kacamata Kuna, Pedupan, Bendo.

Bokor Kinang, kacamata Kuna, Pedupan, Bendo, dan lain-lain
Ada juga foto beberapa kepala desa Dermaji dari dulu sampe sekarang.

Yang paling baru paling ganteng ya. Haha.
Ada koleksi lampu juga nih. Kayak petromax, senthir, dan gembreng. Ternyata di museum desa Dermaji juga ada Garu, yg fungsinya untuk membajak sawah. Trus ada juga Korakan Sapi, semacam lonceng yg fungsinya untuk dikalungkan di leher sapi biar sapi gampang ditemukan karena suara lonceng.

Koleksi lampu
Juga terpajang kerajinan tangan desa Dermaji berupa rambut pasangan lakon pewayangan. Trus ada permainan tradisional berupa Cangkriman dan Tulupan atau bedil-bedilan.

Ada bedil-bedilan
Eh ada Ani-ani juga untuk memetik padi! Trus Pendaringan untuk menyimpan beras.

Ani-ani dan kawan-kawannya
Keren banget ya desa Dermaji punya museum yg tertata rapi. Selain museum, desa Dermaji juga punya website loh!

Jangan lupa buka website dermaji.desa.id ya!

Kalau mampir ke Desa Dermaji, kamu harus mampir ke museumnya lo ya!
CURUG WANASUTA
Lalu kami melanjutkan berwisata ke Air Terjun naik 2 mobil. Melewati jalan berkelok menanjak yang aduhai.
Btw aku jadi ngerasa aneh. Soalnya kemarin malam aku lihat rumah-rumah di sini bagus-bagus banget. Eh sekarang kok terasa biasa aja ya? Ah whatever. Mungkin mataku dihalusinasi sama makhluk halus biar kemarin malam aku seneng hahaha. Makasih yaaaa..

Rumah penduduk Dermaji dan Masjid Baiturrohman
Perjalanan dilanjutkan. Melewati pemandangan pegunungan yang bagus banget. Kami berhenti untuk foto-foto.



Melihat keindahan pegunungan dengan sawahnya,
seketika lupa peristiwa mistis tadi malam.
Desa Dermaji memang super awesome indahnya!

Duh bagus banget pemandangannya!

Selfie bareng di sawah.
Norak?
Ah kami lo cuek! Hahaha

Nganjuk’s Next Top Model!
Curug Wanasuta gak begitu jauh dari tempat kita foto-foto. Patokannya adalah jembatan yg ada tulisannya ROAD ART. Nah beberapa langkah ke depan, di situ ada papan putih orange dan di bawahnya ada jalan setapak. Nah, ikutilah jalan setapak itu sampe menemui gubuk peristirahatan.

Patokan Jembatan Road Art

Di bawah papan ini ada jalan setapak.
Treknya lumayan licin dan curam. Tapi gak jauh kok. Kira-kira cuma 1 km. Waaupun cuma 1 km, tapi perjalanan trekking ini sungguh melelahkan. Peserta Juguran Blogger pada sibuk mengatur nafas, sehingga sesuai tagline Juguran Blogger, yaitu sedikit bicara, banyak ngos-ngosan wisata. Hahaha.
Aku sempet ngrekam video perjalanan menuju ke sana loh. Tonton aja ya.
Buat yg males nonton video (kejam banget sih! Hahaha), nih, fotonya:
Levitasi di atas Curug Wanasuta
(klik untuk memperbesar)
Sik sik, kok diatas curug?
Iya bro, ternyata kami ini berada di atas air terjun. Jadi kalau mau melihat air terjunnya harus turun ke bawah sana. Hmm, ini lo foto air terjunnya kalau trekkingnya bener..

Air Terjun (curug) Wanasuta
—
Sepulang dari air terjun, kami disuguhi kelapa muda loh! Ya Alloh seger banget! Kami pun makan bareng lalu foto-foto.

Kakak pengoncek kelapa muda sedang berakseh!
Duh minum kelapa muda di pinggir jalan emang dasar kami-kami ini cuek bebek gak punya malu. Hahaha. Ya ngapain malu lah. Emang kegiatan kami ini memalukan apa? Khan enggak. Haha

Makan kelapa muda berjamaah.
Dan acara Juguran Blogger pun hampir usai. Curug Wanasuta adalah destinasi wisata terakhir yg kami kunjungi.
Setelah dari curug, balik ke rumah pak Kades Dermaji. Mandi-mandi. Packing-packing. Lalu pulang.
2 jam kemudian sudah sampe ibu kota Purwokerto lagi. Tidak lupa beli oleh-oleh. Aku beli gethuk goreng sama Nopia dan cemilan lainnya habis 150 ribuan lebih hahah.
Lha yo ben. Wong aku punya duit. Duit segitu mah dikit! HAHAHHA. Sombong yo ben!

Pusat Oleh-oleh Purwokerto, Eco 21
Trus-trus.. Setelah beli oleh-oleh, kami diantar menuju stasiun. Jam 16.55 kereta Bengawan akan berangkat menuju Jogja. Tiket Purwokerto – Jogja 76 ribu. 3 jam perjalanan. Mahal ya! Lah yo ben. Wong aku punya duit. Duit segitu mah dikit! Hahahaha.
——————–
And this is the end of the posts of Juguran Blogger. Terimakasih banyak telah meloloskan diriku untuk ikutan. Ini perjalanan yg lumayan melelahkan karena dari Nganjuk – Purwokerto itu 8 jam sendiri. Belum ke Desa Kalisari dan Dermaji yg juga berjam-jam. Walaupun melelahkan, tapi aku seneng banget bisa dapat kenalan baru. Hahaha.
Jangan lupa untuk datang di festival Dermaji di akhir Juli nanti yaaa..

Blogger Indonesia terpilih. Haha.


aku diajak dong :p)
Lihat sawah jadi kangen liburan… *eh, ini baru senin padahal :p


Blogger terpilih Indonesia!!! hahahaha. wah sampeyan iki ojo gawe perkoro njuk dituntut karo wong sirik dari kasta liyo loh hahaha. Iya nih nggak sabar nunggu Festival Dermaji, sama suguhan tempe mendoan khas Banyumas ditambah kopi panas, duh nikmat tenan :-)