Oh, Namanya Embung Nglanggeran
Sebelum nulis tentang liburan selanjutnya setelah di Pantai Depok Jogja minggu kemarin, aku baca blognya MAS TRI yg membahas liburan kami ber… bentar ngitung dulu… berenam!
Jadi hari ini Minggu, 1 Desember 2013, kami siang-siang jam setengah dua melunsur ke Gunung Kidul. Ceritanya mau liburan ke gunung. Mana saja terserah. Akhirnya Mas Tri menyarankan ke Embung Nglanggeran.
Apa itu?
Heh, jangan nanya dulu! Biarkan Mas Ndop bercerita. Kalian tenguk-tenguk aja sambil baca. Ya? Sip! Anak pinter. *Puk puk kepala pembaca satu-satu*
Di perjalanan kami melewati pegunungan dengan tanah berwarna merah. Yang menurut saya kurang mecing kalo dipadupadankan sama warna rumput yg hijau. Tapi warna yg mecing itu khan SO YESTERDAY ya.. Sekarang ini jamannya warna tabrakan yg penting kita pede makeknya. Lha ini kenapa kok jadi mbahas fesyen?
Semakin ke atas hawa semakin dingin. Tumbuhan pun berubah, dari pohon mainstream kayak mangga atau jambu, berubah menjadi pinus dan cemara. Jendela mobil pun dibuka. Kami gak mau dong menghirup ase sementara di luar sana banyak oksigen alami yg jauh lebih sehat.
Di tengah perjalanan, kami menemukan spot buat foto-foto asyik.

Pemandangan di bukit seribu,
perbatasan Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul.
Keren banget yak!

Bagus ya!

Ceritanya ini si Aryan ekting kayak MLM itu tuh,
yang suka foto di sebelah mobil(nya orang).
Sama, ini juga mobil carteran kok. 
Jadi di sebelah warung kopi di atas, ada bebatuan yg bagus banget kalau dibuat foto-foto. Kayak foto di bawah ini.

Ganteng ya!

Levitasi.
Model: Aryan. Photografer dan Pengarah Gaya: Ndop

Niatnya Levitasi.
Tapi pengarah gayanya gagal memberi arahan!
Saya memang payah!
Setelah “ekting” beli minum di warung ituh, walaupun sebenarnya cuma “numpang” foto-foto doang, kami melanjutkan perjalanan lagi. Sempat kebablasan juga sih. Trus sempat melewati makam raja apa gitu. Makamnya di bawah sana dicet putih bersih.
Trus jam empat sore, akhirnya kita sampai di Embung Nglanggeran!
Apa itu?
Heeeh, jangan nanya dulu… Sabar aja nape sih? Kita putu putu dulu..

Gunungnya bagus ya! Itu Gunung Api Purba namanya.
Bukan Tomi Purba lo ya. Haha.

Niatnya levitasi, tapi fotografernya motretnya terlalu cepet
Huh bete! Ulang!

Akhirnya berhasil terbang (bukan melompat lo ya!)
Tapi fotografernya gak sadar kalau kakiku belakang kepotong.
Huh bete! Males ngulang! CAPEK!!!

Petani di sini unik loh.
Jadi padi-padi itu dicabut kembali untuk ditanam di lain tempat.
Padi itu ditanam di situ, di lahan yg gak subur-subur amat,
untuk memancing “nafsu makan” nya.
Setelah nafsu makannya besar,
baru deh ditanam di tempat yg melimpah air dan pupuknya.
Hasilnya? Padinya cepet besar dan subur.
Mungkin karena saking laparnya.
Yuk, kita naik lagi ke atas. Menuju ke Embung Nglanggeran.
Apa itu?
Nanya mulu! Enyahlah kau dari hadapanku! 

Tempat parkir kita di sana itu tuh. Lihat petunjuknya.
Jadi ceritanya kita sudah naik lumayan tinggi menuju ke Embung Nglanggeran

Mas Adit minta difotoin levitasi.
Sekalian istirahat dari mendaki kecil yg lumayan melelahkan

Buat yg merasa LUAR BIASA,
yuk patuhi peraturan di Embung Nglanggeran ini.
Jadi niat kami ke sini sebenarnya mau menjemput sunset alias matahari terbenam. Mumpung aku bawa kamera DSLR sekalian belajar ngatur-ngatur cahaya gitu deh.
Sebenarnya sih mau menjemput sunset di Pantai Depok, tapi kok kelamaan nunggu berjam-jam. Nah, mumpung sekarang udah jam setengah lima sore, jadi sejam lagi sudah “tayang” tuh sunsetnya.

Ini lo, Embung Nglanggeran ituh.
Letaknya di Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta
Jadi menurut blognya Mas Tri (Ikanmasteri dot com), Embung Nglanggeran itu semacam penampung air (tadah hujan?) buatan manusia gitu deh. Gedhenya gedhe banget! Dan letaknya di atas gunung. Inilah keunikannya.
Itu perlu “terpal” berapa meter persegi yaaa untuk menampung airnyaaa.. Yang jelas gedhe banget dan gak boleh bocor ya!

Embung Nglanggeran dipotret dari enggel atas.
Fungsinya ternyata simpel, untuk menampung air untuk kebutuhan hidup warga di sekitar situ yg konon kesulitan air. Embung Nglanggeran ini bisa jadi tujuan akhir liburan kalian kalau mau liburan ke Gunung Kidul.
Jadi enaknya emang sore-sore gitu. Soalnya pemandangan sore hari di sini sangat indah. Weri weri biyuutefeul. Kalian akan terpesona dengan wajah saya warna emas dari sinar matahari sore hari di Embung Nglanggeran.
Tapi sebelum itu, yuk kita foto alam sekitar sini…

Para “foto model” menunggu sunset di sebelah Embung

Jadi Embung Nglanggeran ini dikelilingi gunung.
Dan foto ini adalah salah satu gunung di sisi lainnya.
Masih setengah lima nih, mataharinya belum menguning. Yuk kita naik ke bukit sana aja..

Di atas bukit sana banyak muda-mudi memadu kasih #halah
Di atas bukit sana, banyak tempat leyeh-leyeh. Di sini cocok banget buat nglamun. Sayangnya sinyal 3 gak ada di sini. Jadi aku gak bisa pamer sama fans-fansku. #halah

Mas Tri ekting terkapar.

Ada tempat duduk terbuat dari ranting pohon.
Ternyata kuat loh aku panjat!
Tak terasa guyonan di atas bukit di antara pepohonan rindang yg hijau pun menghabiskan setengah jam lamanya. Matahari pun mulai menguning. Menyentrongkan cahaya emas yg super emmezing dan mejikel!

Sebagai seorang berbintang Leo,
yang elemen bintangnya Matahari,
Aku merasa sinar emas ini merecharge energi hidupku.
Yuk, kita hunting silhouette!

Aryan in silhouette

Ndop in silhouette

Mas Adit di antara cahaya emas Matahari

Mas Joddie, Bos Gravis-Design, in golden sunset action!

Embung Nglanggeran pun tampak eksotis terkena cahaya emas matahari

Aku pun juga!
Sudah menjelang maghrib nih. Matahari sudah hampir menghilang. Suasana sudah menggelap. Kita pulang aja yuuuk!

Bentar ya Ndop, masih ada klien minta revisi nih.
Haduuuh, dasar pekerja online ya. Gak ada istirahatnya sekalipun liburan haha.
Udah ah, ngelanjutin nglembur dulu..









)))), ngomong2 baru bebeapa hari progress fotonya sudah kelihatan mas, makin bagooooos… (y)




oh may god! Fotonya bagus, objeknya jg bagus pisan.. wow, keren bgt mas itu bukit batu nya, foto no 14 dr atas, bagus bgt!!!