Belajar Moto
Seminggu belajar moto. Belajar motonya dari yutub. Nonton video. Hampir semua menyarankan agar aku belajar cara moto di fotografer.net. Karena aku orangnya bandel, maka aku nggak nurut. Aku belajarnya lewat yutub. Belajar dari video lebih cepet bikin aku paham dibanding baca artikel.
Setelah download sepuluhan video di yutub. Inilah hasil pembelajaran yg saya dapatkan.

Gelap! f4.6, ISO 800, Speed 1/60
Cahaya lampu kamarku ketika siang ternyata gak terang. Padahal sudah pakai ISO 800. Apanya ya?

Terang! f4.8, ISO 3200, Speed 1/15
Ternyata dengan menaikkan ISO dan melambatkan speed, cahaya yg ditangkap kamera makin terang. Tapi aku masih bingung ngatur-ngatur angkanya. Itu ngubah-ngubahnya asal feeling aja.

Lumayan! f5.3, ISO 6400, Speed 1/30, monochrome
Gambarnya lumayan terang. ISO nya sudah aku naikin biar cahayanya banyak yg masuk. Tapi kalau dizoom banyak noisenya. Aduh bingung!
Yaudah mari kita keluar kamar. Kita cobain sesuatu yg lain dulu aja.
Airnya beku! ISO 800, f4, speed 1/320 detik
Woh ternyata bisa bikin air beku. Tapi agak ngeblur dikit. Mungkin kecepatannya harus ditambah. Tapi nanti gelap. Ah yasudahlah. *mulai frustasi haha*
Gara-gara frustasi itulah. Aku langsung donlod buanyak video untuk belajar lagi. Kira-kira totalnya sudah 26 video (total 2 gigaan). Dan hasilnya?

Buah Nangka. ISO 100, f3.5, speed 1/20 detik
Foto nangka di atas diambil setelah lima kali jepret. Jepretan awalnya terlalu terang. Lalu terlalu gelap. Lalu semakin terang sampai tiga kali ulang. Hahaha. Feelingku belum kuat.

ISO 200, f4, speed 1/80 detik
Foto masku dan istrinya di atas juga ngambilnya lima kali baru dapat pencahayaan gambar yg saya inginkan. Feelingku masih terlalu random. Belum kuat.
Entahlah, aku jadi keukeuh untuk memertahankan ISO 100-200 saja biar noisenya gak ada. Lalu ukuran f sebesar mungkin, yaitu 3.5 biar cahayanya yg masuk buanyak. Berati aku harus mengubah2 shutter speednya doang.
Dan inilah hasil keegoisanku:

ISO 100, f3.5, speed 2 detik
Gelap! Dengan cahaya ruang tengah rumahku di sore hari yg agak redup, aku nekat pakai ISO 100! Padahal menurut petunjuk, harusnya minimal 400 lah. Biarin! Hahaha. Makanya itu aku setting kecepatan jepretnya (shutter speed) 2 detik. Ternyata masih kurang!

ISO 100, f3.5, speed 10 detik
Yes! Dengan berdiri mematung selama 10 detik, akhirnya kameraku bisa menangkap cahaya yg banyak. Keegoisanku untuk memertahankan ISO 100 pun harus aku bayar dengan meneng cep gak bergerak selama 10 detik! HAHAHA. Kameranya kejam! Atau akunya yg terlalu egois?
———–
Malamnya, kekeukeuhanku memertahankan ISO 100-200 saja pun makin bikin penasaran. Gimana ya kalau ISO segitu dibuat malam hari? Menurut aturan manual guidenya, di malam hari dengan cahaya neon biasa itu, ISOnya minimal 400.
Yuk, kita coba ISO 100 di malam hari:

ISO 100, f3.5, speed 2 detik
Foto di atas diambil dua kali. Pertama aku setting 4 detik. Terlalu terang! Turunin 2 detik, lha kok pas! Yay! Feelingku makin baik karena gak perlu coba berrrkali-kali kayak sebelumnya.
Lalu diriku pun foto close up. Karena aku menghadap ke kamera, otomatis cahaya lampu neon di atas gak menimpa wajahku. Walhasil menurut feeling, aku naikin ISO nya 200. Speednya sama dua detik. Dan hasilnya…

ISO 200, f3.5, speed 2 detik
YES BERHASIL! Aku seneng sekali. Dengan ISO 200, foto akan jernih gak ada noisenya. Setelah tahu settingannya. Diriku langsung foto-foto dengan banyak gaya. Haha.

Lihatnya bentar aja ya. Ntar kamu jatuh cinta loh #eh
Besoknya diriku keluar rumah cobain moto di malam hari. Dan inilah hasilnya:

ISO 400, f3.5, speed 1 detik
Karena menahan gerak dua detik itu sedikit “repot”, walhasil aku cepetin jadi 1 detik saja. Jadi harus naikin ISOnya jadi 400. Hasilnya ternyata pas banget sesuai yg aku minta.
Yuk kita coba lagi dengan settingan sama di teras rumah.

Ternyata natural banget cahayanya. Sesuai dengan yg aku minta. Yes!
Kalau kepingin kualitas gambarnya bagus, berati ISOnya harus sekecil mungkin. Tapi kalau isonya kecil, shutter speednya harus lama. Jadi tergantung kebutuhan. Yang penting polanya udah kepegang.
Untuk f 3.5, ukuran ISO dan speed untuk cahaya neon di rumahku adalah
- ISO 100, speed 2 detik (untuk kasus muka tersinari cahaya neon dg baik -berada tepat di bawah neon-)
- ISO 200, speed 2 detik
- ISO 400, speed 1 detik
- ISO 800, speed 1/2 detik
dan seterusnya…
Yuk kita coba menjauh dari cahaya teras rumah. Kita cari cahaya yg lebih redup. Otomatis saya perlambat waktu jepretnya, alias shutter speednya aku perlambat jadi 2 detik. Karena cahaya lebih gelap dua kali dibanding di teras.

Bersama Rian, tetanggaku. ISO 400, f3.5, speed 2 detik
YES! Aku berhasil mengira-ngira lagi. Ini sesuai dengan yang aku minta. Hohoho…
Mbakku datang bersama suami dan anaknya. Langsung aku ajak foto-foto di dalam ruang tengah yg cahayanya lebih redup dari kamarku dan ruang tamu. Waduh musti setting lagi nih. Berapa ya kira-kira?

Ternyata sama kayak settingan di atas. YES! ISO 400, speed 1 detik.
KETERANGAN:
- Foto-foto di atas tanpa edit ya. Paling cuma crop doang soalnya aku belum punya tripod. Jadi naruh kameranya di mana-mana. Kadang di tembok, sedel sepeda, kursi, pintu gerbang rumah. Jadi komposisinya gak bisa diatur semau kita.
- Saya tidak menggunakan lampu flash.
- Saya menggunakan lensa kit 18-55mm alias lensa murah bawaan Nikon D3200. Jadi kalau ada saran untuk beli lensa ini lensa itu, gak akan saya gubris. Beda konteks. Di postingan ini saya nggak membahas tentang kelemahan lensa kit. Tapi justru sebaliknya “Memaksimalkan Lensa Kit”.
Udah ah.

mas..hikksss

kapan2 nek iso kopdar, aku dipoto yo HAHAHA
ngko nek rabi tak undang dadi tukang jepret yoh (lirik kanan-kiri, wedi bojo ngintip) maksute lek adik rabi 

*pengen belajar poto juga*
mas e web e kok sering error apa bandwith e tak kuasa menahan serbuan pengunjung?


ga bisa komentarin poto diatas karena ga ngerti kamera dan ga ngerti jepretan bagus atau enggak tu yang gimana wkwkwk
keknya lagi demen2nya ama mainan barunya yah? lanjutkan kata pak eSBeYe
setahun lagi jangan2 mas ndop dah berubah propesi jadi potograper